Taman Pelangi Monjali

Taman Pelangi Monjali merupakan obyek wisata baru yang menggunakan sebagian lahan milik Monumen Jogja Kembali (Monjali). Daya tarik utama obyek wisata ini adalah berbagai macam dan bentuk lampion yang unik ditambah dengan beragam arena ketangkasan dan hiburan.

Taman Pelangi Monjali yang sebelumnya bernama Taman Lampion Monjali resmi dibuka akhir tahun 2011. Mengambil lokasi di area Monumen Jogja Kembali (Monjali) atas kerjasama PT. Taman Pelangi Jakarta dengan pengelola Monumen Jogja Kembali dengan kontrak dua tahun yang rencanakan akan diperpanjang. Sebelumnya telah dibuka di beberapa kota seperti Jakarta, Malang (BNS), dan Surabaya.

Penataan lampion di taman ini pun bervariasi ada yang di tanam, di tempel pada dinding, di gantung bahkan di buat berbaris mirip seperti prajurit yang sedang melakukan upacara. Selain dapat menikmati keindahan malam yang penuh dengan warna, para pengunjung juga dapat mencoba berbagai wahana yang ada di taman lampion ini seperti trampoline, becak mini, perahu dayung, bola air, speed boat, bom bom car dan masih banyak lagi yang lainnya. Meskipun taman ini merupakan wisata malam hari, namun taman ini banyak di kunjungi mulai dari pagi hingga malam hari. Taman pelangi ini dapat di sebut sebagai salah satu tempat wisata yang lumayan lengkap, karena selain menawarkan suasana yang romantis di malam hari dengan berbagai bentuk serta warna lampion, taman ini memiliki sekitar 20 wahana yang dapat di coba untuk menambah keseruan.

Hutan Pinus Mangunan

Hutan Pinus Mangunan adalah hutan terbuka yang terdiri dari banyaknya pohon pinus yang sangat tinggi. Selain lokasinya yang teduh karena berada di kawasan hutan, juga sangat cocok sebagai tempat untuk berfoto ria. Banyak muda-mudi, baik berkelompok maupun berpasangan yang mengunjungi hutan ini. Bahkan, ada juga pasangan pengantin yang menggunakan background hutan pinus sebagai background foto prewedding, karena memang terkesan sangat romaintis.

Suasana alam yang indah dan sejuk, serta pemandangan hutan pinus yang berkombinasi menjadi sebuah pemandangan yang sangat mempesona, tentu meninggalkan kesan yang sangat romantis.Adapun yang menarik dari Hutan Pinus Mangunan ini adalah telah dibangun panggung beserta kursi-kusri penontonnya yang melingkar terbuat dari kayu-kayu pohon pinus, sehingga nampak seperti panggung tater sungguhan. Namun, yang menjadikan keren adalah, arsitektur panggung beserta kursinya yang terbuat dari bahan kayu sangat pas dengan lokasi yang berada di kawasan hutan.

Tidak hanya menjadi spot yang bagus untuk berfoto, tetapi juga suasanya-nya yang terkesan sangat alami dan elegan. Sangat tepat sebagai tempat bersantai, terkadang ada juga wisatawan yang menggunakan panggung untuk beraksi, yaitu bermain musik, sehingga menjadi hiburan yang mengiringi wisatawan.Banyaknya hutan pinus yang tinggi seperti menjadi canopii, bagi yang sudah pernah menonton film Twilight, maka hutan pinus ini seperti hutan yang berada di film tersebut. Wisatawan bisa juga membawa hammock sebagai tempat bersantai yang nyaman untuk menikmati suasanya hutan pinus yang nyaman.

Mengunjungi Hutan Pinus Mangunan ini disarankan ketika pagi hari, karena tentunya suhunya yang sejuk dan keadaan alamnya yang nampak masih segar. Namun, ketika siang hari juga bisa menjadi tempat berteduh yang sangat adem, karena tentu kandungan oksigennya yang sangat banyak, tentu sangat bermabfaat bagi kesehatan. Biasanya di lokasis ini, tidak hanya sebagi tempat berwisata yang menarik, tetapi juga banyak yang menggunakannya sebagai tempat outbond. Jalur menuju lokasi yang agak terjal juga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pesepeda dari Jogja yang datang mengunjunginya.

RAMAYANA BALLET SYNOPSIS

RAMAYANA BALLET SYNOPSIS

Ramayana Ballet begining with the victory of Rama of Ayodya competition to get Sita. After winning the competition, Leksmana, Rama, and Sita wanders in the Dandaka forest.

In the forest of Dandaka, Ravana kidnapping Sita and was taken to Alengka.To reclaim the Sita, Rama is helped by the Apes built a bridge to Alengka to rescue Sita.There was a great battle between the Kingdom of Alengka against the Giants are keeping the Kingdom of Alengka.

The story ends with the death of Ravana by Rama’s arrow and the merging of Rama with his wife. But Rama refused Sita because of dubious purity Sita. Then Sita burns herself to prove her chastity. Sita spared fro the fire and it proves that Sita is still sacred. Eventually they reunited.

Embung Nglanggeran dan Gunung Api Purba

Embung Nglanggeran

Embung Nglanggeran adalah sebuah tempat wisata baru yang terletak di Gunung Kidul . Tepatnya terletak di Dusun Nglanggeran Wetan, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.Embung Nglanggeran ini dulunya merupakan sebuah bukit bernama Gunung Gandu.

Kemudian dipotong dan dikeruk untuk dijadikan telaga tadah hujan yang bisa mengairi kebun buah yang ada di sekitarnya. Selain berasal dari air tadah hujan, air embung ini juga berasal dari Sumber Sumurup yang terletak di Gunung Nglanggeran. Karena berasal dari bukit yang dipotong, maka Embung Nglanggeran merupakan telaga yang berada di puncak bukit. Embung adalah istilah yang biasa digunakan oleh orang Jawa untuk menyebut telaga buatan yang fungsi utamanya adalah sebagai sarana pengairan.

Embung Nglanggeran diresmikan oleh Sultan Hamengku Buwono X pada 19 Februari 2013. dengan membayar restribusi Rp3000 per orang anda sudah bisa menikmati keindahan Embung Nglanggeran ini. Tapi di Embung Nglanggeran ini , anda tidak boleh memancing, mandi-mandi atau naik sampan. Tapi walaupun demikian, Embung ini tetap asyik untuk dinikmati apabila anda datang di waktu yang tepat. Misalnya pada waktu matahari akan tenggelam. Karena Embung Nglanggeran merupakan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan sunset di Yogyakarta.

Embung Nglanggeran juga menyuguhkan pemandangan yang cantik. Sebuah hamparan beningnya danau ada di depan mata, berpadu dengan hijaunya perbukitan dan berada di atas ketinggian. Sungguh indah dan mempesona. perjalanan menuju lokasi Embung Nglanggeran sangat memacu adrenalin. Karena anda harus melewati perkampungan, jalan yang menanjak dengan diapit tebing-tebing bebatuan tua. Embung Nglanggeran mudah dicapai dari Jogja. Bila anda membawa kendaraan pribadi, anda cukup mengikuti jalan Wonosari, sesampainya di pertigaan Polsek Patuk, anda harus belok kanan menuju Gunung Api Purba Nglanggeran. Atau untuk lebih nyamannya anda bs menggunakan jasa rental mobil dari admin Wisata Jogja, selain murah juga dijamin keselamatannya dan jauh lbh menyenangkan krn kami melayani dengan sepenuh hati. Disediakan pula paket wisata dg harga bersaing dengan aneka pilihan obyek wisata lainnya.

Tidak sulit untuk sampai ke Embung Nlanggeran karena banyak petunjuk yang jelas yang bisa membawa anda ke sana. Kemudian untuk sampai ke Embung yang terletak 500 meter di atas permukaan laut, anda harus mendaki puluhan anak tangga yang berkelak-kelok.

Benteng Vredeburg

Bangunan yang terletak tepat di seberang Istana Kepresidenan Yogyakarta, merupakan salah satu bangunan yang menjadi wisata arsitektur di Kawasan Nol Kilometer atau Jalan A. Yani, seruas Jalan Malioboro. Bangunan yang dulu dikenal dengan nama Rusternburg (peristirahatan) dibangun pada tahun 1760. Kemegahan yang dirasakan saat ini dari Benteng Vredeburg pertama kalinya diusulkan pihak Belanda melalui Gubernur W.H. Van Ossenberch dengan alasan menjaga stabilitas keamanan pemerintahan Sultan HB I. Pihak Belanda menunggu waktu 5 tahun untuk mendapatkan restu dari Sultan HB I untuk menyempurnakan Benteng Rusternburg tersebut. Pembuatan benteng ini diarsiteki oleh Frans Haak. Kemudian bangunan benteng yang baru tersebut dinamakan Benteng Vredeburg yang berarti perdamaian.

Benteng Vredeburg ini memiliki denah berbentuk persegi dan menghadap barat. Sebelum memasuki pintu gerbang utama terdapat sebuah jembatan sebagai jalan penghubung utama arus keluar masuk Benteng Vredeburg. Ciri khas pintu gerbang ini bergaya arsitektur klasik Eropa (Yunani-romawi). Hal ini dapat dilihat melalui bagian tympanium yang disangga empat pilar yang bergaya doric.Sejarah kepemilikan Benteng Vredeburg adalah milik Kasultanan Yogyakarta, tetapi atas kepentingan Belanda maka benteng ini berpindah tangan pada Pemerintahan Belanda (VOC) dibawah pengawasan Nicolaas Harting, Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Pada saat masih berfungsi sebagai benteng, bangunan ini dikelilingi oleh parit yang berfungsi sebagai pertahanan awal dari serangan musuh. Namun sekarang parit tersebut hanya tersisa di bagian depan gerbang utama dan hanya berfungsi sebagai drainase saja.

Sampai saat ini masih kita jumpai bastion yang berada di keempat sudut benteng. Keempat bastion itu diberi nama Jayawisesa (barat laut), Jayapurusa (timur laut), Jayaprokosaningprang (barat daya), dan Jayaprayitna (tenggara).Pada bagian dalam benteng terdapat bangunan yang disebut gedung Pengapit Utara dan Selatan. Bangunan ini pada mulanya diperkirakan digunakan sebagai kantor administrasi. Berdasarkan hasil penelitian bentuk asli, bangunan yang ada merupakan bentuk asli dengan ornamen gaya Yunani masa Renaisance. Hal ini menunjukkan usianya yang relative lebih tua dan lebih dekoratif dibandingkan dengan bangunan yang lain. Dari masa ke masa benteng ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk sesuai keadaan politik saat itu. Seperti yang dijumpai pada masa sekarang, benteng ini telah berubah fungsi menjadi museum.

Bukit Bintang

Bukit Bintang merupakan wisata malam di Yogyakarta, tepatnya di daerah perbukitan pathuk, Gunung kidul. Wisata malam disini dimaksudkan bahwa tempat ini akan terlihat lebih indah saat malam hari. Bukit bintang ini sebenarnya berupa tempat yang luas diatas bukit sehingga kita dapat melihat pemandangan Yogyakarta dari titik yang cukup tinggi. Ketika malam hari lampu-lampu kota Yogyakarta yang menyala menambah keindahan suasana. 


Selain untuk melihat keindahan Yogyakarta pada malam hari, lokasi ini juga sering dimanfaatkan oleh para remaja untuk berkumpul menghabiskan malam serta banyak muda mudi yang sedang memadu kasih. Jika anda ingin melihat Kota Yogyakarta dari atas pada malam hari, anda dapat berkunjung ke lokasi ini karena lokasi ini sangat mudah untuk ditemukan karena tepat berada  dipinggir Jalan penghubung anatara Yogyakarta dan Wonosari.

 

 

 

Alun-Alun Kidul

Alun-alun Kidul, atau biasa disingkat Alkid merupakan tanah lapang dibelakang kompleks kraton. Sesuai namanya, Alkid berada di sisi paling selatan kompleks kraton Ngayogyakarta. Alkid masuk dalam kecamatan Keraton, kota Yogyakarta. Seperti alun-alun pada umumnya, Alkid berada di pusat kota. Jaraknya hanya 1 km dari kilometer nol Yogyakarta. Dari Malioboro dengan andong atau becak, Alkid dapat dicapai dalam lima belas menit saja. Dengan menggunakan bus umum, Alkid dapat diakses melalui jalur 5 dan turun di Plengkung Gading.

Bukan hanya kegiatan resmi kerajaan, kegiatan masyarakat sehari-hari dapat dilakukan di Alkid. Keterbukaan Alkid ini dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat sekitar. Pada hari libur di Alkid banyak dijumpai masyarakat sekitar yang berolahraga, berdagang, dan bertamasya.

Disimbolkan dengan gajah yang memiliki watak tenang, Alkid merupakan penyeimbang Alun-Alun Utara yang cenderung ribut. Karenanya, Alkid dianggap tempat palereman (istirahat) para Dewa. Kini Alkid sudah menjadi tempat ngleremke ati (menenangkan hati) bagi banyak orang. Dulu Alkid digunakan sebagai tempat untuk latihan ketangkasan prajurit kraton. Seperti ketangkasan berkuda (setonan), lomba memanah sambil bersila (manahan), dan adu harimau (rampok harimau). Sejarah Alkid tak pernah lepas dari beringin kembar yang tumbuh di tengah alun-alun. Dulu para prajurit sering mengadakan latihan konsentrasi dengan berjalan diantara dua beringin. Tradisi yang kini disebut masangin ini kemudian banyak ditiru orang-orang dan membuat Alkid semakin populer. Dalam upacara kerajaan, tradisi masangin ini dilakukan setelah topo bisu yang diadakan setiap malam  1 Suro. Ritual ini dilakukan demi ngalap berkah dan memohon keselamatan Kraton. Berkembang mitos dalam masyarakat lokal bahwa siapa yang dapat melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup maka orang tersebut akan tercapai cita-cita nya. Hasilnya, banyak orang penasaran dan datang ke Alkid untuk menjajal masangin untuk membuktikan mitos tersebut.

Setiap Minggu Alkid tak pernah sepi dari pengunjung yang kebanyakan keluarga. Ini karena di Alkid tersedia berbagai wahana bermain anak, seperti odong-odong, kereta kambing, mobil remote, andong, becak kecil, mandi bola, dan kereta putar. Ongkos satu jenis permainan sekitar Rp 3000,- sampai Rp 6000,-. Pada hari-hari lain Alkid juga tak kalah sepi dengan hari Minggu. Keramaian biasanya dimulai sejak pukul 17.00 WIB. Para penjaja wedang ronde, wedang bajigur, roti dan jagung bakar, dan tempura mulai menyiapkan lapak-lapaknya. Yang tampil paling heboh adalah jasa sewa sepeda tandem dan mobil kayuh. Sepeda tandem dan mobil kayuh yang siap disewakan itu dipasangi lampu warna-warni sehingga terlihat cantik di malam hari. Para penjaja sewa mobil kayuh juga memamerkan kreativitasnya dengan membentuk mobil kayuhnya seperti burung, ikan, sampai tokoh kartun terkenal. Bahkan ada salah satu calon walikota yang berkampanye dengan merangkai namanya di mobil kayuh.

Saat mulai gelap, berbagai jajanan dan makanan sudah bisa dipesan. Suasana semakin ramai dan meriah. Ada yang memilih nongkrong di pinggir alun-alun sambil menikmati jajanan, ada pula yang mengitari alun-alun dengan sepeda tandem atau mobil kayuh, sedang yang di tengah alun-alun bermain masangin atau kitiran. Di waktu-waktu tertentu, anda dapat melihat pagelaran wayang di Sasono Hinggil Dwi Abad. Namun, untuk melihatnya anda perlu persiapan karena umumnya wayang digelar semalam suntuk. Anda juga dapat melihat persiapan para prajurit kraton untuk merayakan Grebeg (perayaan memperingati Maulud Nabi). Di alun-alun inilah semua prajurit berkumpul untuk melaksanakan gladi resik sehari sebelum perayaan dan berangkat ke alun-alun utara pada hari perayaan.

Untuk masuk ke Alkid, tak dikenai biaya sepeser pun. Namun jika anda membawa kendaraan pribadi, anda akan dikenai biaya parkir. Biaya sewa kain hitam penutup mata Rp 3000,-, Sewa sepeda tandem Rp 10.000,- untuk tiga sampai empat putaran, sedang mobil kayuh Rp 15.000,- sampai Rp 20.000,- untuk dua sampai tiga putaran.

Museum Soeharto

Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul wisata baru Sejarah di Bantul, DIY. Memorial Soeharto atau Moseum Seharto yang terletak di Kemsusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul saat tersebut telah dibuka untuk masyarakat. Semua orang bisa masuk untuk melihat koleksi yang memiliki di Memorial tersebut. Saat tersebut moseum tersebut semakin ramai, apalagi pmemiliki hari Libur serta Sabtu/Minggu banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri yang berkunjung kestersebut. Memorial tersebut dibangun oleh Pak probi, adik kandung Jenderal Besar H.M Soeharto untuk mengenang jasa serta pengabdian, serta penghargaan terhmemilikip prestasi serta keberhasilan yang telah menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.

Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul. Alamat Museum Soeharto terletak di Kemusuk, Sedayu, Bantul, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Alamat Museum Soeharto tersebut dibangun diatas tanah kelahiran Pak HM Soeharto yaitu sebuah kampung Kemusuk, Sedayu, Bantul. Kemusuk, Sedayu, Bantul sendiri terletak di sekitar 10 km dari Pusat Kota Jogja. Alamat Museum Soeharto bisa diakses dari beberapa Jalan utama, pmemiliki web tersebut memiliki penunjuk arah menuju ke Alamat Museum jika diakses dari jalan Wates km 10.

Secara keseluruhan Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul Memorial tersebut dibangun diatas lahan seluas 3620 m² terdiri dari : joglo, Rumah Notosudiro (eyang Buyut Pak HM Soeharto), Rumah Atmosudiro (Eyang Pak HM Soeharto), serta Petilasan Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul Bantul.

Museum Ulen Sentalu

Museum Ullen Sentalu mengangkat tema sejarah, budaya dan tradisi Jawa terutama yang berada dibawah kekuasaan Mataram. Seperti sebuah miniatur, museum ini memamerkan berbagai unsur tradisi budaya yang berkaitan dengan kehidupan keraton Surakarta dan Yogyakarta, yang mungkin sulit dilihat bahkan di lingkungan keraton sendiri.

Museum ini berada dibawah naungan Yayasan Ulating Blencong yang ternyata sudah ada sejak tahun 1997. Museum ini beralamat di Jl. Boyong, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta ini buka Selasa-Minggu pukul 09.00-15.30. Harga tiketnya bervariasi antara Rp15.000,00 hingga Rp50.000,00.

Nama Ullen Sentalu merupakan kependekan dari “Ulating Blencong Sejatine Tataning Lumaku”, yang artinya pelita kehidupan sejati bagi jalan hidup manusia. Falsafah ini diserap dari pertunjukan wayang kulit, dimana lampu minyak (blencong) dipakai sebagai cahaya yang mengarahkan dan menerangi pertunjukan.

Ullen Sentalu berdiri di atas sebidang tanah seluas 1,2 ha milik keraton yang bernama Taman Kaswargan. Terletak dekat dengan Pesanggrahan Ngeksigondo dan Wisma Kaliurang, taman ini merupakan bagian dari lokasi bersejarah di Kaliurang. Pesanggrahan Ngeksigondo merupakan tempat rekreasi keluarga kerajaan, sementara Wisma Kaliurang adalah tempat dilaksanakannya Konferensi 3 negara pada era Perang Kemerdekaan.

Ditengah rimbunnya pepohonan di Taman Kaswargan, Bangunan museum yang didominasi warna hitam batu kali memancarkan kesan misterius, magis, namun menggoda untuk dijelajahi. Museum Ullen Sentalu memiliki 7 bagian yang semuanya bisa dinikmati keindahannya, yaitu Gerbang, Guwa Sela Giri, Kampung Kambang dengan 5 ruangan, sebuah taman, Galeri Seni Modern Djagat Akademik, Restauran Beukenhof, dan Bale Nitik Rengganis.

Nuansa Jawa klasik menyeruak sejak pertama kali pandangan kita menumbuk tatanan arsitekturnya. Melangkah memasuki gerbang melalui jalan setapak, kita selanjutnya diajak menelusuri di Guwa Sela Giri, Sebuah lorong yang diibaratkan sebagai Sumur Gumuling Tamansari.

Disepanjang lorong yang berdinding batu gunung ini, terpampang beberapa foto lawas kota Jogja dan beberapa foto penari-penari kraton yang sedang beraksi. Ada pula lukisan figur-figur penting dalam sejarah Mataram Islam yang tak lupa disertai penjelasan mengenai hubungan dan asal-usulnya.

Selanjutnya kita bisa mengeksplorasi Kampung Kambang, sebuah bangunan dengan 5 ruangan yang berdiri diatas kolam yang asri. Ruang Tinneke didedikasikan untuk mengenang GRAj. Koes Sapariyam dari Keraton Surakarta. Ruang Paes Ageng Yogyakarta menampilkan lukisan realis bertema pasangan yang mengenakan baju pengantin gaya Yogyakarta.

Ruangan Vorstendlanden Batik digunakan untuk memamerkan koleksi batik yang diproduksi pada era pemerintahan Sultan HB VII-HB IX dari Yogyakarta dan Sunan PB X- PB XII dari Surakarta. Berikutnya adalah Ruang Batik Pesisiran. Di sini ditampilkan berbagai batik yang merupakan akulturasi dengan budaya pendatang seperti china dan arab. Yang terakhir adalah sebuah ruang yang didedikasikan untuk GRAy. Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur.

Untuk mengistirahatkan mata sebelum menikmati detil museum yang lain, anda bisa menikmati suasana atau mengabadikan diri di taman. Patung dan pahatan-pahatan menarik bisa memberi detil menarik pada foto-foto anda. Berlanjut ke Galeri Seni Modern Djagat Akademik, anda akan mendapat kesan bahwa hal-hal klasik dan kuno yang ditampilkan sebelumnya merupakan hal yang berkesinambungan dan masih berkaitan dengan perkembangan masa kini.

Di bagian terakhir, anda akan dipersilakan memenuhi hasrat anda untuk menikmati hidangan lezat khas Restauran Beukenhof. Dan untuk mendapatkan suvenir cantik, jangan lupa mengunjungi Bale Nitik Rengganis sebuah toko yang menjual suvenir dan barang-barang kerajinan bernuansa artistik.

Tugu Jogja

Tugu Yogyakarta sudah dikenal sebagai ikon kota Yogyakarta. Hampir setiap malam, puluhan warga, khususnya anak-anak muda datang ke tempat ini untuk berfoto atau sekedar nongkrong di sana. Apalagi, Tugu ini baru saja direstorasi oleh pemerintah daerah, dicat ulang sehingga warna khas Tugu ini yaitu putih dengan prada emas semakin terlihat cerah.

Bangunan ini berdiri tepat di tengah perempatan pertemuan Jl. Jend. Sudirman di sebelah timur, Jl. P. Mangkubumi di sebelah selatan, Jl. P. Diponegoro di sebelah barat dan Jl. AM. Sangaji di sebelah utara. Tugu yang ada sekarang ini berbentuk persegi yang mengerucut ke atas dengan puncak yang runcing. Di setiap sisi terdapat prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam pembangunan Tugu ini. Namun, bangunan setinggi 15 meter ini hanyalah tugu pengganti.

Tugu yang asli dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, pada tahun 1775 atau satu tahun setelah perjanjian Giyanti yang menegaskan berdirinya Kraton Yogyakarta. Tugu ini berdiri gagah dengan tinggi 25 meter, berbentuk silinder dengan bulatan menyerupai bola di puncaknya. Sehingga, tugu ini disebut Tugu Golong Gilig. Golong gilig sering diartikan sebagai menyatu/berbulat niat, kehendak, dan tindakan. Sehingga bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat). Suatu simbolisasi yang cukup meresahkan pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Namun pada tanggal 10 Juni 1867 terjadi gempa bumi hebat yang mengguncang Yogyakarta saat itu dan membuat bangunan tugu patah. Hingga akhirnya pada tahun 1889 Belanda merenovasi total bangunan tugu hingga menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. Ketinggian tugu dipotong hingga menjadi 15 meter, berbentuk persegi sehingga makna golong gilig atau simbol persatuan antara rakyat dengan raja menjadi hilang. Bangunan ini dirancang oleh YWE Van Brussels, dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada tanggal 3 Oktober 1889. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih, tidak terlepas dari ciri warna putih yang melingkupi bangunan tersebut.