Arsip Kategori: Museum dan Monumen

Benteng Vredeburg

Bangunan yang terletak tepat di seberang Istana Kepresidenan Yogyakarta, merupakan salah satu bangunan yang menjadi wisata arsitektur di Kawasan Nol Kilometer atau Jalan A. Yani, seruas Jalan Malioboro. Bangunan yang dulu dikenal dengan nama Rusternburg (peristirahatan) dibangun pada tahun 1760. Kemegahan yang dirasakan saat ini dari Benteng Vredeburg pertama kalinya diusulkan pihak Belanda melalui Gubernur W.H. Van Ossenberch dengan alasan menjaga stabilitas keamanan pemerintahan Sultan HB I. Pihak Belanda menunggu waktu 5 tahun untuk mendapatkan restu dari Sultan HB I untuk menyempurnakan Benteng Rusternburg tersebut. Pembuatan benteng ini diarsiteki oleh Frans Haak. Kemudian bangunan benteng yang baru tersebut dinamakan Benteng Vredeburg yang berarti perdamaian.

Benteng Vredeburg ini memiliki denah berbentuk persegi dan menghadap barat. Sebelum memasuki pintu gerbang utama terdapat sebuah jembatan sebagai jalan penghubung utama arus keluar masuk Benteng Vredeburg. Ciri khas pintu gerbang ini bergaya arsitektur klasik Eropa (Yunani-romawi). Hal ini dapat dilihat melalui bagian tympanium yang disangga empat pilar yang bergaya doric.Sejarah kepemilikan Benteng Vredeburg adalah milik Kasultanan Yogyakarta, tetapi atas kepentingan Belanda maka benteng ini berpindah tangan pada Pemerintahan Belanda (VOC) dibawah pengawasan Nicolaas Harting, Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Pada saat masih berfungsi sebagai benteng, bangunan ini dikelilingi oleh parit yang berfungsi sebagai pertahanan awal dari serangan musuh. Namun sekarang parit tersebut hanya tersisa di bagian depan gerbang utama dan hanya berfungsi sebagai drainase saja.

Sampai saat ini masih kita jumpai bastion yang berada di keempat sudut benteng. Keempat bastion itu diberi nama Jayawisesa (barat laut), Jayapurusa (timur laut), Jayaprokosaningprang (barat daya), dan Jayaprayitna (tenggara).Pada bagian dalam benteng terdapat bangunan yang disebut gedung Pengapit Utara dan Selatan. Bangunan ini pada mulanya diperkirakan digunakan sebagai kantor administrasi. Berdasarkan hasil penelitian bentuk asli, bangunan yang ada merupakan bentuk asli dengan ornamen gaya Yunani masa Renaisance. Hal ini menunjukkan usianya yang relative lebih tua dan lebih dekoratif dibandingkan dengan bangunan yang lain. Dari masa ke masa benteng ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk sesuai keadaan politik saat itu. Seperti yang dijumpai pada masa sekarang, benteng ini telah berubah fungsi menjadi museum.

Museum Soeharto

Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul wisata baru Sejarah di Bantul, DIY. Memorial Soeharto atau Moseum Seharto yang terletak di Kemsusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul saat tersebut telah dibuka untuk masyarakat. Semua orang bisa masuk untuk melihat koleksi yang memiliki di Memorial tersebut. Saat tersebut moseum tersebut semakin ramai, apalagi pmemiliki hari Libur serta Sabtu/Minggu banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri yang berkunjung kestersebut. Memorial tersebut dibangun oleh Pak probi, adik kandung Jenderal Besar H.M Soeharto untuk mengenang jasa serta pengabdian, serta penghargaan terhmemilikip prestasi serta keberhasilan yang telah menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.

Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul. Alamat Museum Soeharto terletak di Kemusuk, Sedayu, Bantul, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Alamat Museum Soeharto tersebut dibangun diatas tanah kelahiran Pak HM Soeharto yaitu sebuah kampung Kemusuk, Sedayu, Bantul. Kemusuk, Sedayu, Bantul sendiri terletak di sekitar 10 km dari Pusat Kota Jogja. Alamat Museum Soeharto bisa diakses dari beberapa Jalan utama, pmemiliki web tersebut memiliki penunjuk arah menuju ke Alamat Museum jika diakses dari jalan Wates km 10.

Secara keseluruhan Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul Memorial tersebut dibangun diatas lahan seluas 3620 m² terdiri dari : joglo, Rumah Notosudiro (eyang Buyut Pak HM Soeharto), Rumah Atmosudiro (Eyang Pak HM Soeharto), serta Petilasan Wisata ke Museum Soeharto Kemusuk, Sedayu, Bantul Bantul.

Museum Ulen Sentalu

Museum Ullen Sentalu mengangkat tema sejarah, budaya dan tradisi Jawa terutama yang berada dibawah kekuasaan Mataram. Seperti sebuah miniatur, museum ini memamerkan berbagai unsur tradisi budaya yang berkaitan dengan kehidupan keraton Surakarta dan Yogyakarta, yang mungkin sulit dilihat bahkan di lingkungan keraton sendiri.

Museum ini berada dibawah naungan Yayasan Ulating Blencong yang ternyata sudah ada sejak tahun 1997. Museum ini beralamat di Jl. Boyong, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta ini buka Selasa-Minggu pukul 09.00-15.30. Harga tiketnya bervariasi antara Rp15.000,00 hingga Rp50.000,00.

Nama Ullen Sentalu merupakan kependekan dari “Ulating Blencong Sejatine Tataning Lumaku”, yang artinya pelita kehidupan sejati bagi jalan hidup manusia. Falsafah ini diserap dari pertunjukan wayang kulit, dimana lampu minyak (blencong) dipakai sebagai cahaya yang mengarahkan dan menerangi pertunjukan.

Ullen Sentalu berdiri di atas sebidang tanah seluas 1,2 ha milik keraton yang bernama Taman Kaswargan. Terletak dekat dengan Pesanggrahan Ngeksigondo dan Wisma Kaliurang, taman ini merupakan bagian dari lokasi bersejarah di Kaliurang. Pesanggrahan Ngeksigondo merupakan tempat rekreasi keluarga kerajaan, sementara Wisma Kaliurang adalah tempat dilaksanakannya Konferensi 3 negara pada era Perang Kemerdekaan.

Ditengah rimbunnya pepohonan di Taman Kaswargan, Bangunan museum yang didominasi warna hitam batu kali memancarkan kesan misterius, magis, namun menggoda untuk dijelajahi. Museum Ullen Sentalu memiliki 7 bagian yang semuanya bisa dinikmati keindahannya, yaitu Gerbang, Guwa Sela Giri, Kampung Kambang dengan 5 ruangan, sebuah taman, Galeri Seni Modern Djagat Akademik, Restauran Beukenhof, dan Bale Nitik Rengganis.

Nuansa Jawa klasik menyeruak sejak pertama kali pandangan kita menumbuk tatanan arsitekturnya. Melangkah memasuki gerbang melalui jalan setapak, kita selanjutnya diajak menelusuri di Guwa Sela Giri, Sebuah lorong yang diibaratkan sebagai Sumur Gumuling Tamansari.

Disepanjang lorong yang berdinding batu gunung ini, terpampang beberapa foto lawas kota Jogja dan beberapa foto penari-penari kraton yang sedang beraksi. Ada pula lukisan figur-figur penting dalam sejarah Mataram Islam yang tak lupa disertai penjelasan mengenai hubungan dan asal-usulnya.

Selanjutnya kita bisa mengeksplorasi Kampung Kambang, sebuah bangunan dengan 5 ruangan yang berdiri diatas kolam yang asri. Ruang Tinneke didedikasikan untuk mengenang GRAj. Koes Sapariyam dari Keraton Surakarta. Ruang Paes Ageng Yogyakarta menampilkan lukisan realis bertema pasangan yang mengenakan baju pengantin gaya Yogyakarta.

Ruangan Vorstendlanden Batik digunakan untuk memamerkan koleksi batik yang diproduksi pada era pemerintahan Sultan HB VII-HB IX dari Yogyakarta dan Sunan PB X- PB XII dari Surakarta. Berikutnya adalah Ruang Batik Pesisiran. Di sini ditampilkan berbagai batik yang merupakan akulturasi dengan budaya pendatang seperti china dan arab. Yang terakhir adalah sebuah ruang yang didedikasikan untuk GRAy. Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur.

Untuk mengistirahatkan mata sebelum menikmati detil museum yang lain, anda bisa menikmati suasana atau mengabadikan diri di taman. Patung dan pahatan-pahatan menarik bisa memberi detil menarik pada foto-foto anda. Berlanjut ke Galeri Seni Modern Djagat Akademik, anda akan mendapat kesan bahwa hal-hal klasik dan kuno yang ditampilkan sebelumnya merupakan hal yang berkesinambungan dan masih berkaitan dengan perkembangan masa kini.

Di bagian terakhir, anda akan dipersilakan memenuhi hasrat anda untuk menikmati hidangan lezat khas Restauran Beukenhof. Dan untuk mendapatkan suvenir cantik, jangan lupa mengunjungi Bale Nitik Rengganis sebuah toko yang menjual suvenir dan barang-barang kerajinan bernuansa artistik.

Tugu Jogja

Tugu Yogyakarta sudah dikenal sebagai ikon kota Yogyakarta. Hampir setiap malam, puluhan warga, khususnya anak-anak muda datang ke tempat ini untuk berfoto atau sekedar nongkrong di sana. Apalagi, Tugu ini baru saja direstorasi oleh pemerintah daerah, dicat ulang sehingga warna khas Tugu ini yaitu putih dengan prada emas semakin terlihat cerah.

Bangunan ini berdiri tepat di tengah perempatan pertemuan Jl. Jend. Sudirman di sebelah timur, Jl. P. Mangkubumi di sebelah selatan, Jl. P. Diponegoro di sebelah barat dan Jl. AM. Sangaji di sebelah utara. Tugu yang ada sekarang ini berbentuk persegi yang mengerucut ke atas dengan puncak yang runcing. Di setiap sisi terdapat prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam pembangunan Tugu ini. Namun, bangunan setinggi 15 meter ini hanyalah tugu pengganti.

Tugu yang asli dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, pada tahun 1775 atau satu tahun setelah perjanjian Giyanti yang menegaskan berdirinya Kraton Yogyakarta. Tugu ini berdiri gagah dengan tinggi 25 meter, berbentuk silinder dengan bulatan menyerupai bola di puncaknya. Sehingga, tugu ini disebut Tugu Golong Gilig. Golong gilig sering diartikan sebagai menyatu/berbulat niat, kehendak, dan tindakan. Sehingga bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat). Suatu simbolisasi yang cukup meresahkan pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Namun pada tanggal 10 Juni 1867 terjadi gempa bumi hebat yang mengguncang Yogyakarta saat itu dan membuat bangunan tugu patah. Hingga akhirnya pada tahun 1889 Belanda merenovasi total bangunan tugu hingga menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. Ketinggian tugu dipotong hingga menjadi 15 meter, berbentuk persegi sehingga makna golong gilig atau simbol persatuan antara rakyat dengan raja menjadi hilang. Bangunan ini dirancang oleh YWE Van Brussels, dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada tanggal 3 Oktober 1889. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih, tidak terlepas dari ciri warna putih yang melingkupi bangunan tersebut.

Museum Sonobudoyo

Museum Sonobudoyo beralamat di Jalan Trikora No. 6, tepatnya di pojok barat laut Alun-alun utara Jogja. Jika anda berangkat dari Malioboro, anda harus berjalan lurus ke selatan menyeberangi perempatan Kantor Pos Besar menuju keraton. Museum Sonobudoyo hanya terletak 50 meter di kanan pertigaan Alun-alun utara.

Sejarah pendirian Museum Sonobudoyo diawali dari keberadaan Java Institute. Java Institute adalah sebuah organisasi yang beranggotakan orang-orang Eropa yang memiliki antusiasme terhadap kebudayaan Jawa. Berbagai koleksi dari berbagai wilayah di Jawa, Madura, Bali dan Lombok akhirnya diserahkan pada seorang Belanda bernama Th Karsten yang selanjutnya memrakarsai pendirian museum ini. Pada 6 November 1935, Museum Sonobudoyo yang menempati sebuah bangunan bekas kantor diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Museum Sonobudoyo yang berada dibawah pembinaan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini mempunyai koleksi budaya telengkap kedua setelah museum utama di Jakarta. Museum ini memiliki koleksi sebanyak 42.698 benda yang terbagi menjadi 10 kategori, yakni koleksi geologika, biologi, etnografi, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologi, seni rupa, dan teknologika.

Koleksi geologika Museum Sonobudoyo antara lain terdiri dari batuan, material, fosil, batu permata, batu granit, dan batu andesit. Koleksi biologika yang ada antara lain tengkorak dan kerangka manusia, tumbuh-tumbuhan, dan binatang.

Sementara itu, koleksi etnografika terdiri dari berbagai hasil warisan budaya dari suatu etnis seperti wadah, wayang, dan keris. Benda-benda arkeologika yang ada terdiri dari kapak batu, gerabah, kalung manik, arca, dan artefak.

Untuk memudahkan pengunjung menikmati berbagai koleksi yang ada, pengelola membagi sepuluh kategori tersebut menjadi dua. Di ruang pameran Museum Sonobudoyo unit I ditampikan berbagai koleksi dari kategori etnografi, arkeologi, numismatika, keramik, dan filologika. Sementara di ruang pameran unit II terdapat koleksi dari kategori geologika, biologika, ethnografika, numismatika, filologika, dan seni rupa.

Salah satu koleksi andalan Museum Sonobudoyo adalah berbagai macam keris dan bend-benda yang berhubungan dengan keris. Museum ini mengoleksi sekitar 1200 keris. Diantara koleksi tersebut terdapat keris lurus, keris luk (lekuk) 7, keris luk 11 dan keris luk 13. Museum Sonobudoyo juga menyimpan Wesi Budha, logam untuk membuat keris, gagang dengan berbagai model ukiran, dan warangka (sarung) dengan berbagai variasi bentuk dan hiasannya.

Fasilitas yang disediakan bagi pengunjung antara lain ruang pertemuan, ruang tamu, perpustakaan, ruang pertunjukkan, mushola. Seperti kebanyakan museum lain di Jogja, Museum Sonobudoyo buka tiap hari pukul 08.00-13.00 kecuali Senin dan hari libur nasional.

Monumen Jogja Kembali (Monjali)

Monjali terletak di Jalan Ringroad Utara, tepatnya di dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman. Jika anda berangkat dari perempatan Tugu, jalan Monjali yang membujur ke utara akan mengantar anda langsung ke lokasi monumen.

Monjali sangat mudah dikenali karena bentuk bangunannya berupa kerucut raksasa. Dibangun setinggi 31,8 m di areal seluas 5,6 ha, struktur kerucut merepresentasikan gunung merapi yang memberi pengayoman dan kemakmuran pada masyarakat Jogja.

Suasana heroik langsung terasa saat anda melangkahkan kaki masuk ke halaman museum. Tak jauh dari gerbang timur berdiri sebuah replika Cureng, pesawat tempur Jepang buatan tahun 1933. Sementara, replika Guntai, jenis pesawat tempur Jepang lainnya, berdiri menjaga gerbang barat. Masing masing pesawat ditemani sebuah meriam anti pesawat.

Di sisi dalam tembok lengkung yang menghadap ke bangunan utama terdapat daftar yang memuat 420 pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948-29 Juni 1949. Di situ tertoreh pula bait puisi perjuangan karya sang pujangga Chairil Anwar yang berjudul Karawang Bekasi.

Bangunan utama kompleks Monjali memiliki 3 lantai dan 4 pintu masuk di tiap arah mata angin. Lantai dasar bisa diakses melalui pintu timur dan barat. Lantai yang dibagi menjadi 4 ruang ini menyimpan tak kurang dari seribu benda bersejarah. Selain berbagai jenis bedil, mortir, dan seragam, di lantai ini disimpan koleksi utama berupa sebuah kursi panggul rotan yang dulu dipakai menandu Jenderal Sudirman.

Bisa diakses melalui pintu utara dan selatan, lantai 2 memamerkan gambaran tentang situasi perang. Si dinding sepanjang tangga dari lantai 1, terdapat 40 relief yang menceritakan berbagai kejadian penting pada kurun waktu antara Proklamasi 1945 hingga Agresi Militer Belanda 1949.

Untuk penggambaran yang lebih jelas, lantai 2 juga menyuguhkan gambar 3 dimensi yang disebut diorama. Tambah dramatis dengan permainan lampu dan latar belakang suara, diorama-diorama itu menceritakan antara lain serangan Belanda pada lapangan terbang Maguwo dan penandatanganan perjanjian Roem-Royen.

Di lantai paling atas, anda akan menemui Garbha Graha, sebuah auditorium yang luas dan terkesan kosong. Hanya ada sebuah tiang berbendera merah putih tepat di tengah ruangan. Ruangan ini ditujukan sebagai tempat bagi pengunjung untuk meresapi semangat nasionalisme dan patriotisme dari perjuangan para pendahulu.

Museum Affandi

Museum Affandi terletak di Jalan Adisucipto, lebih dikenal sebagai jalan Solo, no. 167. Lokasinya yang berhadapan dengan UIN Sunan Kalijaga tepat di pinggir Sungai Gajahwong membuat museum ini mudah ditemukan. Selain benda-benda koleksinya, letak museum yang strategis bisa jadi sebuah alasan anda untuk datang berkunjung. Jaraknya relatif dekat dari Bandara Adisucipto (4km), Terminal Giwangan (10km), Stasiun Tugu (5km), dan hampir seluruh hotel besar di Jogja.

Bentuk atap yang unik menyerupai daun pisang menjadi ciri khas bangunan museum. Warnanya yang didominasi hijau dan kuning memperkuat kesan artistik dari bangunan itu. Dibangun secara estetis sebagai etalase untuk lukisan-lukisan Affandi, bagian dalam museum didominasi oleh bahan kayu dan dirancang memiliki sedikit tembok seperti sebuah pendapa.

Ada tiga bagian penting pada bangunan museum. Bagian pertama atau yang sering disebut Galeri I merupakan bangunan terdepan dalam kompleks tersebut. Galeri I dilengkapi pintu berbentuk asimetris. Geleri I ini dibuka untuk umum pada 1074 dan digunakan untuk menyimpan hasil karya serta barang -barang yang ia sayangi. Selain lukisan, Galeri I juga menyimpan sebuah sepeda tua yang sering ia gunakan untuk mengelilingi Jogja dan sebuah Mobil bermerk Datsun yang berwarna kuning dan berbentuk menyerupai ikan. Sekedar informasi, koleksi karya-karya Affandi yang dipajang di Galeri I berharga antara 600 juta hingga 4 miliar rupiah per buah.

Gallery II terletak di belakang Galeri I. Dengan bantuan dari Presiden saat itu, Suharto, bagian ini dibuka untuk umum pada tahun 1987. Galeri II ini berisi karya-karya Affandi dan karya rekan-rekan pelukisnya. Bagian ini memiliki dua lantai, lantai atas umumnya berisi lukisan dengan gaya realistis dan lantai bawah berisi lukisan-lukisan bergaya abstrak.

Bagian terakhir dari museum ini adalah Galeri III. Bagian ini sebelumnya adalah rumah keluarga Affandi. Terletak paling dekat dengan sungai Gajahwong, Galeri berlantai tiga ini dibuka untuk umum pada tahun 2000 oleh Sultan Hamengkubuwono X. Galeri ini berfungsi sebagai perluasan dari dua galeri sebelumnya yang tidak lagi mampu menampung banyaknya karya-karya seni yang menjadi koleksi museum ini. Dari jendela lantai tiga Galeri III ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan sungai dan jalan Solo yang asri.