Arsip Kategori: Wisata Sejarah

Gua Siluman

Tampilan-Depan-Goa-Siluman

Di wilayah Bantul, Yogyakarta ada sebuah tempat yang dipercaya masyarakat sangat manjur untuk dijadikan sarana untuk membuang kesialan yang diderita seseorang. Namanya adalah Pesanggrahan Gua Siluman. Tempat itu merupakan sebuah petilasan atau semacam situs bersejarah berupa tempat pemandian gaya kerajaan Mataram. Banyak orang mengenalnya sebagai Benteng Pendem karena bentuk bangunannya yang tampak terpendam berada sekitar 4 meter di bawah permukaan tanah. 

Banyak pihak yang belum mengetahui tentang keberadaan Pesanggrahan Gua Siluman yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II ini. Namun di balik itu semua, bangunan ini bernilaisejarah yang tinggi. Pesanggrahan ini dulu  pernah berfungsi sebagai tempat bertapa bagi kalangan Keraton Yogyakarta. Dalam salah satu tembang macapat, bersama Pesanggrahan Warungboto tempat ini dikisahkan, yakni tentang kemajuan yang diraih selama pemerintahan Hamengku Buwono II di Yogyakarta. 

Danang Sutowijoyo atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati, yakni pendiri Kerajaan Mataram, mendirikan kerajaannya di kawasan Kota Gede. Berdasarkan sejarah, setelah Perjanjian Giyanti, akhirnya Keraton Mataram harus angkat kaki dari Kota Gede. Untuk merespon hal tersebut Raja yang menjabat kala itu mendapat wangsit untuk memindahkan kerajaan dari Kota Gede ke kawasan Wonocatur, Bantul. Hampir semua persiapan pun telah dilakukan, termasuk salah satunya mendirikan pemandian untuk para putri serta selir-selir istana. Kini tempat tersebut disebut sebagai Gua Siluman. Namun, belum selesai membangun, ternyata Raja mendapatkan wangsit untuk mendirikan kerajaan di daerah Plered, Bantul. Sehingga pemandian ini belum sampai dipergunakan oleh seorang putri kraton untuk mandi di tempat ini.

Di balik histori dan misteri di Gua Siluman tersebut, pesanggrahan yang merupakan cagar budaya yang dilindungi ini dipercaya oleh beberapa orang memiliki keampuhan lain, seperti mampu untuk membuang sial. Membuang sial maksudnya adalah meruwat atau berusaha merubah nasib seseorang dari sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik lagi.

Bangunan Pesanggrahan Gua Siluman ini sudah tidak utuh lagi, bagian dalam gua terdiri dari lorong-lorong yang sudah banyak ditumbuhi oleh lumut. Areal bangunan ini tidak terlalu luas, hanya sekitar 100 x 200 m saja. Kalau Anda bisa bertemu dengan juru kunci Gua Siluman atau pengelola pesanggrahan ini, alangkah baiknya jika Anda mengajaknya untuk berkeliling melihat-lihat seluruh isi situs ini.

Walaupun beberapa bagian sudah mengalami kerusakan, bentuknya yang unik masih dapat terlihat jelas. Menyambut kedatangan pengunjung, terdapat Relief Burung Beri di bagian atas pintu gerbang. Sementara pada bagian bawah pintu, terdapat beberapa anak tangga yang menghubungkan bagian luar gua dengan lorong utama. Pengunjung akan menjumpai lagi sebuah pintu bila masuk lebih ke dalam. Pada pintu ini bagian atasnya berbentuk lengkung dan berfungsi sebagai penanda bahwa sudah memasuki lorong.

Jika Anda berkeliling ke sisi barat daya gua ini, terdapat satu buah kolam air berbentuk lingkaran. Kolam itu juga dihiasi dengan Arca Burung Beri dengan desain yang hampir sama dengan yang ada di gerbang. Selain bentuknya yang unik, paruh burung ini menonjol dan sekaligus berfungsi sebagai pancuran air. Kemudian terdapat sebuah sekat yang dihiasi ornamen-ornamen indah serupa motif kain batik, tak jauh dari pintu yang menghubungkan ke ruangan paling timur.

Area pesanggrahan mencakup wilayah kanan dan kiri jalan, artinya lorong yang menghubungkan kompleks Gua Siluman ini di kanan dan kiri jalan itu berada persis di bawah jalan raya menuju Berbah. Bagian bangunan di kiri jalan merupakan pintu gerbang masuk pesanggrahan dan pintu itu bersambungan dengan lorong menuju areal bangunan yang berada di bagian kanan jalan. 

Kondisinya yang sudah tinggal puing-puing dan berada di antara padatnya pemukiman warga, membuat Kawasan Pesanggrahan Gua Siluman ini nyaris tidak terlihat dan tidak cukup mudah ditemui. Disamping itu, tidak banyak fasilitas yang ada di tempat ini. Walaupun begitu keindahan tempat pemandian masa lampau masih bisa dijumpai dalam taman yang hijau dan sebuah kolam dengan mata air yang masih mengalir.

Taman Sari

tamansari

Meski berada tepat di pusat kota, lokasi Tamansari tersembunyi di tengah perkampungan padat. Objek wisata ini berada cuma sepelemparan batu komplek Keraton Yogyakarta, tepatnya arah barat daya dari halaman Kemandungan Selatan (Magangan). Bersebelahan dengan pasar Ngasem, Tamansari secara administratif berada di kampung Taman, Kecamatan Kraton.

Istana Tamansari mulai dibangun pada 1757, tepatnya setelah Perjanjian Giyanti pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana I dan selesai 1765. Arsitektur yang digunakan dalam kompleks Tamansari adalah perpaduan antara gaya arsitektur Hindu, Budha, Islam, Eropa dan China. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat tentang pendiriannya, Tamansari melibatkan 2 sosok dari luar Yogyakarta.

Orang pertama adalah seorang Portugis yang diangkat sebagai arsitek kebun kerajaan. Oleh masyarakat setempat waktu itu, arsitek asal Portugis itu lebih dikenal dengan Demang Tegis. Sosok lain yang sering disebut-sebut sebagai arsitek sekaligus orang yang bertanggungjawab atas pembangunan kompleks Tamansari adalah Tumenggung Prawirosentiko, seorang Bupati Madiun. Saat itu, Madiun berada dibawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta dan harus menyetor pajak kepada Sultan.

Pada awal dibangunnya, Istana Tamansari meliputi areal seluas 12,6 hektar dengan 58 bangunan yang dikelilingi danau buatan. Hal ini dapat dilacak dari keberadaan kampung Segaran yang sekarang dikenal sebagai kampung Suryoputran di area antara tenggara Tamansari sampai perempatan kota. Saat itu, Kompleks taman sari masih lengkap dilengkapi dengan jembatan gantung, kanal air, dan tembok tebal yang berguna sebagai benteng

Menurut penelitian, Tamansari pada awal pendirian setidaknya memiliki 4 bagian utama. Dari empat bagian yang memiliki 58 bangunan pada awal pendirian, saat ini hanya tersisa 22 bangunan yang masih berdiri dan bisa dikenali. Kerusakan banyak bangunan dalam kompleks Tamansari disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab utama adalah faktor usia. Pada tahun 1970-an, sebagian tembok Tamansari roboh karena sudah terlalu tua. Faktor alam juga sangat menentukan. Kerusakan paling parah yang dialami Tamansari adalah karena gempa hebat yang terjadi pada 1867.

Pemasuki kompleks Tamansari, pengunjung akan melihat sebuah bangunan yang dinamakan Gedhong Gapura Hageng. Bangunan ini merupakan pintu gerbang utama yang dilewati keluarga kerajaan jika akan menuju Tamansari. Gerbang ini terdapat di bagian paling barat dari situs istana air yang tersisa. Gapura Hageng mempunyai beberapa ruang dan dua jenjang ini berhiaskan relief burung dan bunga-bungaan berangka tahun pembuatan.

Daya tarik utama dari kompleks Tamansari terletak pada Umbul Pasiraman yang disebut juga Umbul Binangun. Umbul Pasiraman merupakan kolam pemandian bagi Sultan, para istri, serta para putri-putri. Ada dua buah gerbang utama menuju kolam pemandian ini, yaitu gerbang timur dan barat. Dari kedua gerbang itu terdapat jenjang menurun menuju tiga buah kolam Umbul Pasiraman yang dihiasi pancuran berbentuk jamur. Kompleks ini dikelilingi tembok tinggi dan banyak pot bunga.

Di sisi yang berdempetan dengan Pasar Burung Ngasem terdapat sebuah bangunan yang sering disebut Pulo Cemethi. Bangunan yang juga disebut Pulo Panembungan ini memiliki 2 lantai. Dari lantai atas, pengunjung bisa melihat jauh ke utara hingga bisa melihat Tugu dengan jelas. Tempat ini menurut cerita merupakan tempat meditasi Sultan. Walaupun tinggal puing, banyak wisatawan yang mengabadikan diri di bagian ini karena kesan kuno sangat terpancar dari bagian ini.

Tak hanya peninggalan berupa kompleks pemandian, Kampung Tamansari memiliki beberapa daya tarik lain. Daya tarik pertama adalah Masjid Tamansari yang dibangun pada paruh pertama abad lalu. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Tak seperti masjid berarsitektur Jawa lain yang memiliki empat tiang yang disebut sakaguru, Masjid Tamansari hanya disangga oleh 1 sakaguru tepat di tengah bangunan. Karenanya, Masjid ini disebut sebagai Masjid Saka Tunggal.

Daya tarik lainnya adalah kesenian berupa batik lukis. Tamansari telah lama dikenal sebagai tempat awal terciptanya batik lukis. Batik lukis adalah salah satu metode melukis yang menggunakan prinsip-prinsip membatik. Pembuatan batik lukis lebih bebas dalam hal alat, metode, maupun desain daripada batik tulis ataupun batik cap. Tak hanya membeli hasil kerajinan dan mengamati pengrajin berkarya, pengunjung juga bisa merasakan bagaimana cara membuat selembar batik lukis.

Seiring perkembangan kota, keberadaan kompleks Tamansari di tengah-tengah kawasan padat penduduk menyebabkannya rawan perusakan. Karenanya, atas usul Jogja Heritage Society, World Monument Fund (WMF) menetapkan Kompleks Istana Tamansari sebagai satu dari seratus Most Endangered Sites 2004 (Situs Paling Terancam 2004).

Kraton

Kraton-Kraton__Yogyakarta_

Sebagai pusat salah satu kerajaan terakhir sebelum terbentuknya republik ini, Yogyakarta masih menyimpan akar budaya yang kuat. Ditetapkan sebagai Daerah Istimewa, kota ini memang istimewa dengan tradisi kerajaan dan adat istiadat Jawa yang kental. Kilometer 0 adalah tempat paling pas untuk memulai sebuah penelusuran. Titik ini tepat berada di seputaran keraton.

Resminya, Keraton Yogyakarta bernama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Menurut sejarah, komplek Keraton Jogja dimulai dari Gapura Gladhag di perempatan kantor pos besar sampai di Plengkung Nirboyo, sebuah gerbang beton melengkung di sisi selatan. Namun karena perkembangan zaman, Keraton Jogja yang dikenal sekarang hanya bangunan utama yang dikelilingi pagar tembok.

Bangunan tua yang dibangun pada pertengahan abad 18 terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing dilengkapi halaman dan diteduhi berbagai pepohonan rindang. Kontras dengan udara kota yang menyengat, suasana teduh dan damai yang sudah terasa sejak anda memasuki pintu gerbang keraton akan menambah keengganan anda beranjak dari tempat ini.

Sebagai bangunan kerajaan Jawa, bangunan-bangunan di kompleks keraton berdiri dalam gaya arsitektur Jawa klasik yang kental. Terdapat paling tidak 2 jenis bangunan dengan bentuk Joglo sebagai struktur utama, yaitu Joglo terbuka tanpa dinding disebut Bangsal dan Joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong. Tiap-tiap bagian dihubungkan oleh sebuah struktur gerbang yang disebut Regol.

Karena sifatnya yang terbuka bagi semua bentuk keindahan, Keraton Jogja sejak awal pembangunannya telah mengadopsi berbagai unsur budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Pengaruh budaya luar ini terlihat jelas pada ornamen-ornamen dan ukiran yang menghiasi berbagai sudut keraton yang didominasi warna hijau, kuning, dan coklat kayu ini.

Saat pertama memasuki keraton, anda akan langsung disambut oleh para abdi dalem yang mengenakan pakaian adat di kompleks Pagelaran. Bagian ini terlihat sangat jelas dari luar dengan atapnya yang berbentuk limas berwarna merah menyala. Untuk beranjak ke selatan dan melihat Kompleks Siti Hinggil Lor, Kompleks Kamandhungan Lor, dan Kompleks Sri Manganti di bagian yang lebih dalam, anda akan lebih dulu akan melewati sebuah anak tangga dan regol.

Di bagian ini, pengunjung akan melihat keagungan budaya dan tradisi Jawa yang tercermin melalui arsitektur bangunan keraton. Sebuah bangsal yang dahulu dipergunakan untuk menjamu tamu tidak resmi berdiri tak jauh dari regol dan memancarkan keteduhan batin bagi semua yang berada di bawahnya. Di sisi kanan terdapat display patung yang mengenakan seragam berbagai kesatuan prajurit keraton.

Sebagai istana yang masih ditempati raja dan keluarganya, tidak semua bagian keraton boleh dimasuki oleh wisatawan. Merupakan bagian inti keraton dimana raja dan keluarganya tinggal, Kompleks Kedhaton merupakan wilayah pribadi yang tidak diperuntukkan bagi umum. Bagian ini juga memiliki ruangan khusus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda pusaka utama kerajaan.

Di sisi luar pagar keraton, pengunjung masih bisa menelisik sejarah yang tergurat di berbagai bangunan berarsitektur Jawa milik keraton. Di sisi barat Alun Alun Lor, pengunjung bisa mengagumi koleksi Museum Kereta, kemegahan Masjid Gedhe, serta Museum Sonobudoyo. Menyusuri jalan Rotowijayan ke selatan menuju Pasar Ngasem, pengunjung bisa menikmati keagungan Kompleks Tamansari yang saat ini merupakan Situs Warisan Dunia. Waktu malam, romantisme kota hadir bersama segelas teh hangat di trotoar sekeliling Alun-Alun Kidul.