Arsip Kategori: Wisata Ziarah

Dusun Mlangi

Mlangi adalah salah satu Dusun yang berada di Kalurahan Nogotirto Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman. Keunikan dari Dusun Mlangi ini adalah kondisi masyarakatnya yang sangat religius, sehubungan dengan banyaknya pondok pesantren yang berada di wilayah ini. Keberadaan tempat ini tidak terlepas dari adanya dua tempat yang menjadi cikal bakal adanya Dusun Mlangi yaitu masjid Pathok Negara dan makam Kyai Nur Imam (Bendoro Raden Mas Sandiyo).

Masjid Pathok Negara di Mlangi ini merupakan salah satu dari 5 masjid Pathok Negara yang ada di Yogyakarta. Disebut masjid Patok Negara karena memiliki keistimewaan yaitu: masjid ini dikelola oleh sekelompok orang yang diangkat dan dimasukkan dalam kelompok abdi dalem Kraton Yogyakarta, lokasi tempat berdirinya masjid pada awalnya merupakan daerah mutihan (tempat tinggal orang-orang putih/ santri), daerah sekitar masjid merupakan pusat keagamaan dengan adanya beberapa pesantren sebagai pusat pendidikan agama ataupun sebagai konsentrasi tokoh-tokoh agama dan masjid ini letaknya diluar kota Yogyakarta.

Masjid Mlangi yang lebih dikenal dengan sebutan masjid Jami Mlangi ini didirikan pada tahun 1723 M. Hal ini berdasar dari angka tahun yang ditemukan pada umpak tiang masjid yang ada di sebelah barat daya di dalam ruang utama. Angka tahun ini ditemukan ketika ada pemugaran pada tahun 1981. Saat ini masjid sudah mengalami banyak perubahan yaitu telah ditingkat dan diberi sepasang menara.

Sejarah masjid Mlangi ini berkaitan erat dengan sejarah tentang Kyai Nur Imam dan peranan Dusun Mlangi sebagai pusat kegiatan keagamaan. Kyai Nur Imam adalah kakak dari Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I) yang sejak semula sudah gemar menuntut ilmu keagamaan dan tidak tertarik pada masalah pemerintahan. Kyai Nur Iman ini keluar dari istana dan menetap di daerah Mlangi melakukan siar agama. Dan sebagai penghormatan Sultan HB I kepada Kyai Nur Imam maka dibangunlah masjid Pathok Negara.

Gereja Ganjuran

Tidak salah lagi, Jogja telah menjadi salah satu pusat perkembangan budaya Jawa. Di sini, budaya Jawa bertemu dan bercampur dengan kebudayaan lain, baik dari wilayah lain di Indonesia maupun luar negeri. Meski diperkaya oleh berbagai detil-detil baru, budaya Jawa tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri. Hal ini tampak berbagai penjuru wilayah, salah satunya di Ganjuran.

Ganjuran adalah sebuah desa yang berada di kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Wilayah ini terpaut sekitar 20 km di selatan pusat kota. Di wilayah ini hidup satu komunitas yang  mengaplikasikan keselarasan hidup  dalam budaya Jawa dan Kristiani. Komunitas Kristiani Ganjuran memusatkan kegiatan keagamaan mereka di Gereja Hati Kudus Yesus.

Sejarah keberadaan komunitas Katolik di wilayah ini diawali pada tahun 1924, ketika dua Belanda bersaudara, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer, membangun sebuah gereja kecil untuk orang-orang Belanda yang tinggal di wilayah ini. Ganjuran terletak di sekitar Pabrik Gula Madukismo yang dahulu dikuasai kolonial Belanda. Selain gereja, mereka juga membangun sebuah klinik dan sekolah.

Tak hanya untuk kulit putih, gereja, klinik, dan sekolah ini juga berkarya bagi masyarakat setempat. Semakin mendapatkan simpati dari warga, para pelopor sepakat untuk merenovasi wajah gereja. Tujuannya agar budaya Kristiani semakin membumi dan menjadi bagian nyata dalam hidup dan budaya setempat. Pada 1930, Gereja Ganjuran mulai dibuka untuk umum.

Yang paling unik, gereja Ganjuran memiliki sebuah candi, arsitektur khas yang biasa dipakai pemeluk Hindu dan Buddha ini dibangun sebagai bagian konsep akulturasi. Ditujukan sebagai tempat pemujaan layaknya candi lainnya, candi Ganjuran ini dihiasi berbagai atribut Kristiani untuk mendukung aktivitas spiritual pemeluk Katolik.

Di dalam ruang utama candi, terdapat patung Hati Kudus dan Kristus Raja. Kedua patung merepresentasikan Yesus dan Bunda Maria yang digambarkan dalam balutan busana dan aksesoris tradisional Jawa.

Sisi luar candi setinggi 5 m ini dihiasi dengan berbagi ornamen dan relief yang mencerminkan nilai-nilai kristiani yang dikemas dalam simbolisasi tradisional. Relief salib yang dihiasi teratai atau sebaliknya banyak menghias dindingnya. Pancuran terpasang di sisi dasar bangunan menjadi sumber air, media paling penting dalam iman Kristiani.

Candi ini berfungsi sebagai altar bagi perayaan-perayaan hari raya besar. Di depannya dibangun sebuah panggung tempat Romo melangsungkan misa. Peserta misa duduk di halaman luas yang sudah dilapisi batu  dan diteduhi pohon-pohon pinus tinggi. Semua tunduk tertuju ke altar candi.

Di tembok pagar sisi kanan kompleks candi ini, anda bisa melihat hasil akulturasi lainnya. Di situ terpasang 14 peristiwa dalam jalan Salib. Jika anda mengamati dari dekat, Yesus di tiap peristiwa digambarkan seperti seorang rohaniwan Hindu. Doa jalan salib akan makin khusuk ditemani semilir angin dan rindang pepohonan.

Tak hanya arsitektur, budaya Jawa juga kental mewarnai upacara Misa dan ritual keagamaan lainya. Gereja Ganjuran melaksanakan secara rutin Misa dalam bahasa Jawa. Berbeda dengan gereja Katolik pada umumnya, Pastor dan pelaksana misa mengenakan pakaian adat Jawa pada misa-misa hari besar Katolik. Sebagai wujud kesatuan umat dan gereja, di sini juga diadakan misa besar tiap musim panen.

Suasana Jawa yang kental makin terasa saat misa hari besar. Selain Romo dan pelaksanan misa, ibu-ibu paruh baya yang mengikuti misa umumnya mengenakan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Sementara para pria mengenakan baju batik dan peci hitam. Sejuknya keramahan terasa saat tiap umat saling bertukar salam dan sapa sebelum dan sesudah misa.

Sendang Sriningsih

Salah satu tempat ziarah yang cocok untuk dikunjungi sekaligus untuk melepas penat karena aktivitas sehari-hari adalah Sendang Sriningsih, yang terletak di Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pada mulanya, sendang ini bernama Sendang Duren. Pada tahun 1934, seorang pastur bernama Rm. Hardjosuwondo, SJ tertarik aura spiritual lokasi ini. Kemudian beliau membangun lokasi ini menjadi tempat ziarah umat Katolik. Seiring dengan berjalannya waktu, sendang ini terus dipugar dan dilengkapi dengan tempat doa dan patung Bunda Maria.

Sendang Sriningsih terletak di atas bukit, di antara Bukit Ijo dan Bukit Mintorogo. Sebelum naik ke atas bukit, para peziarah dapat melakukan doa Jalan Salib kira-kira sepanjang 900 m sambil menaiki bukit. Di perhentian terakhir, ada dua tempat yang bisa dikunjungi. Jika belok kanan, Anda akan tiba di Patung Salib Kristus yang disebut dengan Golgota; jika belok kiri, Anda akan tiba di sendang / Gua Maria. Tersedia pendopo dan pelataran untuk berdoa atau berdevosi kepada para kudus.

Gua Maria Tritis

Gua Maria Tritis merupakan salah satu gua alami yang ada di deretan perbukitan karst Gunungkidul dan dijadikan sebagai tempat peziarahan umat Katholik. Dinamakan Tritis karena selalu ada air yang menetes (tumaritis) dari stalaktit yang ada di langit-langit gua. Pada mulanya gua ini merupakan tempat yang sepi dan angker sehingga tidak banyak orang yang berani memasukinya. Oleh karena itu, gua ini sering dijadikan sebagai tempat pertapaan dan menjadi tempat persinggahan beberapa pangeran dari Kerajaan Mataram. Gua ini mulai dikenal oleh umat Katholik pada tahun 1974, yakni pada saat digunakan sebagai tempat Ekaristi Natal. Mulai saat itu Gua Tritis diberi tambahan nama Maria dan menjadi tempat favorit para peziarah.

Untuk mencapai gua, peziarah harus berjalan kaki membelah ladang jati, melewati jalan setapak yang berkelok di antara bukit-bukit karang yang tandus. Ada dua pilihan rute untuk mencapai lokasi Gua Maria Tritis, yakni rute panjang sekitar 1,5 km dan rute pendek sejauh 500 meter. Peziarah yang melakukan jalan salib biasanya melewati rute panjang dengan 14 stasi pemberhentian yang dilengkapi diorama kisah sengsara Yesus. Pada stasi ke 12 dibangun 3 buah salib di bawah bukit yang menggambarkan penyaliban Yesus bersama 2 orang penjahat.

Saat bulan Mei dan Oktober, Gua Maria Tritis ramai dikunjungi peziarah sebab bulan-bulan tersebut merupakan bulan Maria. Sedangkan bagi peziarah yang ingin mengikuti ibadah Novena di gua ini dapat datang pada minggu pertama di tiap bulannya. Mentari sudah kembali ke peraduannya saat saya bersimpuh di depan patung Maria. Pendar lilin yang bergoyang tertiup angin seolah memberi petunjuk bahwa masih ada harapan di tengah gelap dan carut-marutnya keadaan dunia. Bunyi air yang menetes dari beberapa stalaktit menjadi melodi indah yang mengiringi permenungan diri, ada damai yang menelusup di relung hati.

Masjid Kotagede

Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, bangunan tempat ibadah islam yang tertua di Yogyakarta. Bangunan itu merupakan tempat yang seringkali hanya dilewati ketika wisatawan hendak menuju kompleks pemakaman raja Mataram, padahal pesona bangunannya tak kalah menarik. Tentu, banyak pula cerita yang ada pada setiap piranti di masjid yang berdiri sekitar tahun 1640-an ini.
Sebelum memasuki kompleks masjid, akan ditemui sebuah pohon beringin yang konon usianya sudah ratusan tahun. Pohon itu tumbuh di lokasi yang kini dimanfaatkan untuk tempat parkir. Karena usianya yang tua, penduduk setempat menamainya “Wringin Sepuh” dan menganggapnya mendatangkan berkah. Keinginan seseorang, menurut cerita, akan terpenuhi bila mau bertapa di bawah pohon tersebut hingga mendapatkan dua lembar daun jatuh, satu tertelungkup dan satu lagi terentang.

Berjalan mendekat ke arah kompleks masjid, akan ditemui sebuah gapura yang berbentuk paduraksa. Persis di bagian depan gapura, akan ditemui sebuah tembok berbentuk huruf L. Pada tembok itu terpahat beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Bentuk paduraksa dan tembok L itu adalah wujud toleransi Sultan Agung pada warga yang ikut membangun masjid yang masih memeluk agama Hindu dan Budha.

Memasuki halaman masjid, akan ditemui sebuah prasasti yang berwarna hijau. Prasasti bertinggi 3 meter itu merupakan pertanda bahwa Paku Buwono pernah merenovasi masjid ini. Bagian dasar prasasti berbentuk bujur sangkar dan di bagian puncaknya terdapat mahkota lambang Kasunanan surakarta. Sebuah jam diletakkan di sisi selatan prasasti sebagai acuan waktu sholat.
Adanya prasasti itu membuktikan bahwa masjid Kotagede mengalami dua tahap pembangunan. Tahap pertama yang dibangun pada masa Sultan Agung hanya merupakan bangunan inti masjid yang berukuran kecil. Karena kecilnya, masjid itu dulunya disebut Langgar. Bangunan kedua dibangun oleh raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Perbedaan bagian masjid yang dibangun oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X ada pada tiangnya. Bagian yang dibangun Sultan agung tiangnya berbahan kayu sedangkan yang dibangun Paku Buwono tiangnya berbahan besi.
Bangunan inti masjid merupakan bangunan Jawa berbentuk limasan. Cirinya dapat dilihat pada atap yang berbentuk limas dan ruangan yang terbagi dua, yaitu inti dan serambi. Sebuah parit yang mengelilingi masjid akan dijumpai sebelum memasuki bangunan inti masjid. Parit itu di masa lalu digunakan sebagai saluran drainase setelah air digunakan wudlu di sebelah utara masjid. Kini, warga setempat memperbaiki parit dengan memasang porselen di bagian dasar parit dan menggunakannya sebagai tempat memelihara ikan. Untuk memudahkan warga yang ingin beribadah, dibuat sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu-kayu yang disusun berderet.
Pada bagian luar inti masjid terdapat bedug tua yang bersebelahan dengan kentongan. Bedug yang usianya tak kalah tua dengan masjidnya itu merupakan hadiah dari seseorang bernama Nyai Pringgit yang berasal dari desa Dondong, wilayah di Kabupaten Kulon Progo. Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda waktu sholat. Sebuah mimbar untuk berkhotbah yang terbuat dari bahan kayu yang diukir indah dapat dijumpai di bagian dalam masjid, sebelah tempat imam memimpin sholat. Mimbar itu juga merupakan pemberian. Saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji, ia mampir ke Palembang untuk menjenguk salah satu adipati di tempat itu. Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu, warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.
Berjalan mengelilingi halaman masjid, akan dijumpai perbedaan pada tembok yang mengelilingi bangunan masjid. Tembok bagian kiri terdiri dari batu bata yang ukurannya lebih besar, warna yang lebih merah, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa. Sementara tembok yang lain memiliki batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. Tembok yang ada di kiri masjid itulah yang dibangun pada masa Sultan agung, sementara tembok yang lain merupakan hasil renovasi Paku Buwono X. Tembok yang dibangun pada masa Sultan agung berperekat air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat.
Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur’an, dan lain-lain.

Sendang Sono

Sendangsono adalah nama sebuah sumber air di dusun Semagung, desa Banjaroyo, kecamatan Kalibawang, kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Lokasinya berada di lereng selatan Menoreh, sebuah jajaran perbukitan kapur sisi barat Yogyakarta. Tempat ini berada sekitar 30 km dari kota dan bisa dicapai melalui Jalan Godean atau Jalan Magelang.

Sendang Sono berasal dari bahasa Jawa Sendang, yang berarti sumber air, dan Sono(Pterocarpus indica), yang merupakan nama pohon besar yang tumbuh di atas sendang. Menurut cerita masyarakat setempat, sumber air ini dahulu merupakan tempat peristirahatan para rohaniwan Buddha yang melakukan perjalanan dari Borobudhur ke wilayah selatan. Di masa selanjutnya, sumber air yang berada di hutan dan perbukitan ini menjadi tempat meditasi para penganut aliran kepercayaan.

Sendangsono adalah tanah kelahiran bagi Kristiani di Indonesia. Dari sumber air inilah Romo Fransiscus Van Lith SJ., seorang pastor Belanda yang berkarya di wilayah Muntilan, mengambil air dan membabtis 171 orang pribumi menurut tata cara Katolik pada tahun 1904. Komunitas ini merupakan komunitas kristiani pertama di Nusantara. Sejak 1929, Gereja menetapkan Sendangsono sebagai tempat peziarahan Gua Maria Sendangsono.

Karena peran penting dan perjalanan panjang sejarahnya, Sendangsono mendapat tempat istimewa di hati umat Katolik. YB Mangunwijaya, seorang rohaniwan katolik yang terkenal pula sebagai sastrawan pemerhati sosial-budaya, tergerak untuk menyumbang pemikiran untuk Gua Maria Sendangsono. Dan hasilnya adalah seperti yang bisa dilihat hari ini, sebuah kompleks berarsitektur unik yang pernah memenangi Aga Khan Award pada tahun 1991 dari kategori bangunan untuk tujuan khusus.

Ramah lingkungan adalah konsep umum yang diterapkan Romo Mangun dalam menata kompleks Gua Maria Sendangsono. Di sekitar sumber air dibangun Gua Maria dari batu gunung. Sebuah patung maria seukuran manusia berdiri di dalamnya. Peraltaran gua selalu dihiasi persembahan lilin dan bunga segar mewangi. Dihadapannya para peziarah biasanya diam, bersimpuh, dan memanjatkan devosi berharap bunda bawakannya pada Sang Putera.

Tepat di sebelahnya ada altar, dimana Imam biasanya mengunjukkan misa pada perayaan-perayaan agung. Di sekeliling altar, tekstur tanah yang Cuma dirapikan seperlunya menyisakan dinamika elevasi bagi peserta upacara. Lebih jauh dari hadapan altar, pancuran yang mengalirkan air segar berderat di bibir sungai, mempersilakan para peziarah membasuhi lelah batin dan penat raganya.

Lereng sungai yang cukup curam diberi lapisan cone-block. Di pasang selang seling, tatanan itu menyangga lereng sekaligus menjadi tempat yang nyaman dan sudut pandang lurus menghadap altar. Gurat alam yang serupa amphiteater ini dirancang untuk memberi kenyamanan lahir maupun batin para peziarah.

Di belakang Gua Maria dan altar, permukaan tanah yang lebih tinggi ditempati oleh sebuah kapel mungil nan bersahaja. Didesain sebagai joglo, sebagian puncak atapnya dibiarkan terbuka untuk menciptakan drama cahaya saat sinar mentari menyeruak. Di hadapannya ada bukit Golgota dengan sebuah salib yang mengingatkan manusia akan janji keselamatan.

Bagi jiwa-jiwa yang haus dan lelah, Sendangsono selalu bisa menjadi oasis di tengah gurun pasir dengan pepohonan teduh dan sumber air segar. Disertai iman sepenuh hati, untaian pengharapan lewat doa dan air dari Sendangsono niscaya menjadi berkah bagi kedamaian hidup dan kesejahteraan semua mahkluk beriman.